JIN
Jin (bahasa arab : جن ) secara harfiah berarti sesuatu yang berkonotasi "tersembunyi" atau "tidak terlihat". Dalam Islam dan mitologi Arab pra-Islam, jin adalah salah satu ras mahluk yang tidak terlihat dan diciptakan dari api.
Jin dalam Mitologi arab
Dalam anggapan orang-orang sebelum Islam datang, Jin dianggap sebagai makhluk keramat, yang harus disembah dan dihormati. Orang orang pada masa tersebut menggambarkannya dalam bentuk patung sesembahan mereka.
Jin dalam Islam
"Dan kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." (QS Al-Hijr 15:27).
Dalam Islam, makhluk ciptaan Allah dapat dibedakan antara yang bernyawa dan tak bernyawa. Di antara yang bernyawa adalah jin. Kata jin menurut bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan, yang berarti istitar (tersembunyi).
Jadi jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan syetan ialah setiap yang durhaka dari golongan jin, manusia atau hewan.
Dinamakan jin, karena ia tersembunyi wujudnya dari pandangan mata manusia. Itulah sebabnya jin dalam wujud aslinya tidak dapat dilihat mata manusia. Kalau ada manusia yang dapat melihat jin, maka jin yang dilihatnya itu adalah jin yang sedang menjelma dalam wujud makhluk yang dapat dilihat mata manusia biasa.
"Sesungguhnya ia (jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kalian (hai manusia) dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka." (QS Al-A'raf 7:27).
Tentang asal kejadian jin, Allah menjelaskan, kalau manusia pertama diciptakan dari tanah, maka jin diciptakan dari api yang sangat panas sesuai dengan ayat tersebut di atas.
Dalam ayat lain Allah mempertegas:
"Dan Kami telah menciptakan jin dari nyala api." (QS Ar-Rahman 55:15). Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid dan Adhdhahak berkata, bahwa yang dimaksud dengan firman Allah: Dari nyala api, ialah dari api murni.
Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas: Dari bara api. (Ditemukan dalam Tafsir Ibnu Katsir). Dalilnya dari hadits riwayat Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
"Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan(diceritakan) kepada kalian." [yaitu dari air spermatozoa] (HR Muslim di dalam kitab Az-Zuhd dan Ahmad di dalam Al-Musnad).
Bagaimana wujud api itu, Al-Qur'an tak menjelaskan secara rinci, dan Allah pun tidak mewajibkan kepada kita untuk menelitinya secara detail.
Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Syetan memperlihatkan wujud (diri)nya ketika aku salat, namun atas pertolongan Allah, aku dapat mencekiknya hingga kurasakan dingin air liurnya di tanganku. Kalau bukan karena doa saudaraku Nabi Sulaiman, pasti kubunuh dia." (HR Bukhari).
Jin dapat beranak-pinak
Jin beranak-pinak dan berkembang-biak (lihat surat Al-Kahfi, 18:50). Tentang apakah jin bisa meninggal atau tidak, ada pendapat bahwa jin hanya berkembang biak, tetapi tidak pernah meninggal. Benar atau tidak, wa Allahu a'lam. Namun menurut hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, di mana Nabi Muhammad SAW berdo'a: "Ya Allah, Engkau tidak mati, sedang jin dan manusia mati..." (HR Bukhari 7383 - Muslim 717).
Habitat para Jin
Walaupun banyak perbedaan antara manusia dengan jin, namun persamannya juga ada. Di antaranya sama-sama mendiami bumi. Bahkan jin telah mendiami bumi sebelum adanya manusia dan kemudian tinggal bersama manusia itu di rumah manusia, tidur di ranjang dan makan bersama manusia.
Tempat yang paling disenangi jin adalah WC. Oleh sebab itu hendaknya kita berdoa waktu masuk WC yang artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari (gangguan) setan (jin) laki-laki dan setan (jin) perempuan." (HR At-Turmudzi).
Syetan suka berdiam di kubur dan di tempat sampah. Apa sebabnya, Al-Qur'an tidak menjelaskan secara rinci. Kuburan dijadikan sebagai tempat bermeditasi oleh tukang sihir (Paranormal).
Nabi Muhammad SAW melarang kita tidur menyerupai syetan. Syetan tidur di atas perutnya (tengkurap) dan bertelanjang. Manusia yang tidur dalam keadaan bertelanjang menarik perhatian syetan untuk mempermainkan auratnya dan menyebabkan timbulnya penyakit. Na'uzu billah min zaalik!
Qarin
Artikel utama: Qarin
Yang dimaksud dengan qarin dalam surat Qaaf 50:27 ialah yang menyertai. Setiap manusia disertai "Qarin dari kalangan Jin". Allah berfirman, artinya:
| “ | Yang menyertai dia (qarin) berkata pula: 'Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkan tetapi dialah (manusia) yang berada dalam kesesatan yang jauh... (QS Qaaf 50:27). | ” |
Manusia dan qarinnya itu akan bersama-sama pada hari berhisab nanti. Dalam sebuah hadits (HR Ahmad) Aisyah ra mengatakan:
Rasulullah SAW keluar dari rumah pada malam hari, aku cemburu karenanya. Tak lama ia kembali dan menyaksikan tingkahku, lalu ia berkata: "Apakah kamu telah didatangi syetanmu?" "Apakah syetan bersamaku?" Jawabku. "Ya, bahkan setiap manusia." Kata Nabi Muhammad SAW. "Termasuk engkau juga?" Tanyaku lagi. "Betul, tetapi Allah menolongku hingga aku selamat dari godaannya." Jawab Nabi (HR Ahmad).
Berdasarkan hadits ini, Nabi Muhammad juga ternyata didampingi qarin. Hanya qarin itu tidak berkutik terhadapnya. Lalu bagaimana mendeteksi keberadaan jin (misalnya di rumah kita), apa tanda-tanda seseorang kemasukan jin? Tidak ada cara atau alat yang bisa mendeteksi keberadaan jin. Sebab jin dalam wujud aslinya merupakan makhluk ghaib yang tidak mungkin dilihat manusia.
| “ | Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. (Al-A'raf 7:27) | ” |
Manusia yang biasa tidak mampu melihat jin, melainkan mereka yang telah diizinkan Allah.Didalam Al-Quran melarang sama sekali kita meminta pertolongan kepada Jin, ini membuktikan terdapat beberapa bilangan manusia yang mampu melihat dan berbicara dengan mereka. Ada juga sesetengah ahli agama yang tersilap bicara diatas nafsu mereka seperti mengatakan Jin memakan asap padahal perkara ini tidak disebut sama sekali didalam Al-Quran.
| “ | Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin 72:6) | ” |
Keberadaan Jin
Yang bisa diketahui dalam hal ini adalah tanda-tanda keberadaan jin. Umpamanya, jin yang menampakkan diri pada seseorang di rumah atau ditempat-tempat tertentu. Atau anggota rumah/kantor yang sering kehilangan uang sementara menurut perkiraan sangat tidak mungkin ada orang yang mencuri. Atau orang sering kesurupan kalau memasuki tempat tersebut. Itu adalah bagian dari indikasi gangguan jin di tempat tersebut.
Jika sudah ada gangguan, maka Ruqyah Syar'iyyah adalah solusi islaminya. Ada pun jika tidak ada gangguan di rumah atau di tempat kita, maka pendeteksian keberadaan jin-jin jahat tak perlu dilakukan.
Demikian juga masalah deteksi jin pada diri seseorang. Tidak ada orang yang dapat melihat keberadaan jin secara pasti dalam tubuh seseorang. Kalau ada yang mengaku mampu mendeteksinya secara pasti, maka orang tersebut juga mempunyai jin yang tidak boleh dimintai bantuan.
Untuk memastikan keberadaan jin yang memasuki tubuh seseorang adalah juga dengan Ruqyah Syar'iyyah. Yaitu, terapi nabawi berupa membacakan ayat-ayat Al-Qur'an dan do'a-do'a yang ma'surat. Itulah satu-satunya cara islami yang diajarkan Islam untuk menangani segala kasus yang berhubungan dengan jin.
Indikasi orang yang dimasuki jin sebagai berikut:
- Gejala waktu terjaga, di antaranya:
- Badan terasa lemah, loyo, dan tidak ada gairah hidup.
- Berat dan malas untuk beraktivitas, terutama untuk beribadah kepada Allah.
- Banyak mengkhayal dan melamun, senyum dan bicara sendiri.
- Tiba-tiba menangis atau tertawa tanpa sebab.
- Sering merasa ada getaran, hawa dingin, atau panas, kesemutan, berdebar, takut, panas dalam, mengantuk, pusing, bosan, malas, gagap, dan sesak napas saat membaca Al-Qur'an.
- Gejala waktu tidur, di antaranya adalah:
- Banyak tidur dan mengantuk berat, atau sulit tidur tanpa sebab.
- Sering mengigau dengan kata-kata kotor.
- Melakukan gerakan-gerakan aneh, seperti mengunyah dengan keras sampai beradu gigi.
- Sering bermimpi buruk dan seram atau seakan-akan jatuh dari tempat yang tinggi.
- Bermimpi melihat binatang-binatang seperti ular, kucing, anjing, singa, serigala yang seakan-akan menyerangnya.
- Bermimpi ditemui jin yang mengaku arwah nenek moyang atau tokoh tertentu.
- Saat tidur merasa seperti ada yang mencekik lehernya atau menggelitikinya dan menendangnya.
Sedikit Tentang JIN - oleh Muhammad Hanafi Maksum, Jakarta. Sumber: Lembaran Dakwah Uswatun Hasanah No. 915/Th. XIX, Jum'at ke-1, 7 Rabiul Akhir 1427 H / 5 Mei 2006 M.
Larangan Berhubungan dengan Jin
6/3/2009 | 10 Rabbi al-Awwal 1430 H Please wait
dakwatuna.com - Jin adalah salah satu makhluk ghaib yang telah diciptakan Allah swt untuk beribadah kepada-Nya.
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Adz-dzariyat: 56).
Sebagaimana malaikat, kita tidak dapat mengetahui informasi tentang jin serta alam ghaib lainnya kecuali melalui khabar shadiq (riwayat & informasi yang shahih) dari Rasulullah saw baik melalui Al-Quran maupun Hadits beliau yang shahih. Alasan nya adalah karena kita tidak dapat berhubungan secara fisik dengan alam ghaib dengan hubungan yang melahirkan informasi yang meyakinkan atau pasti.
Katakanlah: “tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila (kapan) mereka akan dibangkitkan. (An-Naml: 65)
Dia adalah Tuhan yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. (Al-Jin: 26-28).
Manusia diperintahkan oleh Allah swt untuk melakukan muamalah (pergaulan) dengan sesama manusia, karena tujuan hubungan sosial adalah untuk melahirkan ketenangan hati, kerja sama yang baik, saling percaya, saling menyayangi dan saling memberi. Semua itu dapat berlangsung dan terwujud dengan baik, karena seorang manusia dapat mendengarkan pembicaraan saudaranya, dapat melihat sosok tubuhnya, berjabatan tangan dengannya, melihatnya gembira sehingga dapat merasakan kegembiraan nya, dan melihatnya bersedih sehingga bisa merasakan kesedihannya.
Allah swt mengetahui fitrah manusia yang cenderung dan merasa tenteram bila bergaul dengan sesama manusia, oleh karena itu, Dia tidak pernah menganjurkan manusia untuk menjalin hubungan dengan makhluk ghaib yang asing bagi manusia. Bahkan Allah swt tidak memerintahkan kita untuk berkomunikasi dengan malaikat sekalipun, padahal semua malaikat adalah makhluk Allah yang taat kepada-Nya. Para nabi dan rasul alahimussalam pun hanya berhubungan dengan malaikat karena perintah Allah swt dalam rangka menerima wahyu, dan amat berat bagi mereka jika malaikat menampakkan wujudnya yang asli di hadapan mereka. Oleh karena itu tidak jarang para malaikat menemui Rasulullah saw dalam wujud manusia sempurna agar lebih mudah bagi Rasulullah saw untuk menerima wahyu.
Tentang ketenteraman hati manusia berhubungan dengan sesama manusia Allah swt berfirman:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Ar-Rum: 21).
Makna “dari jenismu sendiri’ adalah dari sesama manusia, bukan jin atau malaikat, atau makhluk lain yang bukan manusia. Karena hubungan dengan makhluk lain, apalagi dalam bentuk pernikahan, tidak akan melahirkan ketenteraman, padahal ketenteraman adalah tujuan utama menjalin hubungan.
Beberapa Informasi tentang Jin dari Al-Quran & Hadits
a. Jin diciptakan dari api dan diciptakan sebelum manusia
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelumnya dari api yang sangat panas. (Al-Hijr: 26-27).
خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ. رواه مسلم
Malaikat telah diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari tanah (yang telah dijelaskan kepada kalian). (Muslim)
Perbedaan asal penciptaan ini menyebabkan manusia tidak dapat berhubungan dengan jin, sebagaimana manusia tidak bisa berhubungan dengan malaikat kecuali jika jin atau malaikat menghendakinya. Apabila manusia meminta jin agar bersedia berhubungan dengannya, maka pasti jin tersebut akan mengajukan syarat-syarat tertentu yang berpotensi menyesatkan manusia dari jalan Allah swt.
b. Jin adalah makhluk yang berkembang biak dan berketurunan
Dan (Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zhalim. (Al-Kahfi: 50).
Al-Quran juga menyebutkan bahwa di antara bangsa jin ada kaum laki-laki nya (rijal) sehingga para ulama menyimpulkan berarti ada kaum perempuannya (karena tidak dapat dikatakan laki-laki kalau tidak ada perempuan). Dengan demikian berarti mereka berkembang biak.
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6).
c. Jin dapat melihat manusia sedangkan manusia tidak dapat melihat jin
Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al-A’raf: 27).
Hal ini membuat kita tidak dapat berhubungan dengan mereka secara wajar sebagaimana hubungan sesama manusia. Kalau pun terjadi hubungan, maka kita berada pada posisi yang lemah, karena kita tidak dapat melihat mereka dan mereka bisa melihat kita.
d. Bahwa di antara bangsa jin ada yang beriman dan ada pula yang kafir, karena mereka diberikan iradah (kehendak) dan hak memilih seperti manusia.
Dan sesungguhnya di antara kami ada jin yang taat dan ada (pula) jin yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun jin yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahanam. (Al-Jin (72): 14-15).
Meskipun ada yang muslim, tapi karena jin makhluk ghaib, maka tidak mungkin muncul ketenteraman hati dan kepercayaan penuh bagi kita terhadap keislaman mereka, apakah benar jin yang mengaku muslim jujur dengan pengakuannya atau dusta?! Kalau benar, apakah mereka muslim yang baik atau bukan?! Bahkan kita harus waspada dengan tipu daya mereka.
Berhubungan dengan jin adalah salah satu pintu kerusakan dan berpotensi mendatangkan bahaya besar bagi pelakunya. Potensi bahaya ini dapat kita pahami dari hadits Qudsi di mana Rasulullah saw menyampaikan pesan Allah swt:
وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ، وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ، وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا. رواه مسلم
Dan sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku semua dalam keadaan hanif (lurus), dan sungguh mereka lalu didatangi oleh setan-setan yang menjauhkan mereka dari agama mereka, mengharamkan apa yang telah Aku halalkan, dan memerintahkan mereka untuk menyekutukan-Ku dengan hal-hal yang tidak pernah Aku wahyukan kepada mereka sedikit pun. (Muslim)
Dalil lain tentang larangan berhubungan dengan jin adalah:
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6).
Imam At-Thabari dalam tafsirnya menyebutkan: “Ada penduduk kampung dari bangsa Arab yang menuruni lembah dan menambah dosa mereka dengan meminta perlindungan kepada jin penghuni lembah tersebut, lalu jin itu bertambah berani mengganggu mereka.
Tujuan seorang muslim melakukan hubungan sosial adalah dalam rangka beribadah kepada Allah swt dan berusaha meningkatkannya atau untuk menghindarkan dirinya dari segala hal yang dapat merusak ibadahnya kepada Allah. Melakukan hubungan dengan jin berpotensi merusak penghambaan kita kepada Allah yaitu terjatuh kepada perbuatan syirik seperti yang dijelaskan oleh ayat tersebut. Ketidakmampuan kita melihat mereka dan kemampuan mereka melihat kita berpotensi menjadikan kita berada pada posisi yang lebih lemah, sehingga jin yang kafir atau pendosa sangat mungkin memperdaya kita agar bermaksiat kepada Allah swt.
Bagaimana berhubungan dengan jin yang mengaku muslim? Kita tetap tidak dapat memastikan kebenaran pengakuannya karena kita tidak dapat melihat apalagi menyelidiki nya. Bila jin tersebut muslim sekalipun, bukan menjadi jaminan bahwa ia adalah jin muslim yang baik dan taat kepada Allah.
Di samping itu, tidak ada manusia yang dapat menundukkan jin sepenuhnya (taat sepenuhnya tanpa syarat) selain Nabi Sulaiman as dengan doanya:
Sulaiman berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi”. (Shad (38): 35).
Maka berhubungan dengan jin tidak mungkin dilakukan kecuali apabila jin itu menghendakinya, dan sering kali ia baru bersedia apabila manusia memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat ini dapat dipastikan secara bertahap akan menggiring manusia jatuh kepada kemaksiatan, bahkan mungkin kemusyrikan dan kekufuran yang mengeluarkannya dari ajaran Islam. Na’udzu billah.
Wallahu a’lam.
Referensi:
1. Silsilah Aqidah oleh Umar Sulaiman Al Asyqar
2. Al ‘Aqaid Al-Islamiyah oleh Abdurrahman Hasan Habannakah
3. Tafsir At-Thabari.
2. Al ‘Aqaid Al-Islamiyah oleh Abdurrahman Hasan Habannakah
3. Tafsir At-Thabari.
“Beda Syetan, Iblis, dan Jin”
ketegori Muslim. Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Pak Ustadz, saya masih bingung perbedaan antara: “jin”, “syetan”, dan “iblis”. Mohon jawaban Pak Ustadz. Seandainya sudah ada penjelasan di website ini, saya mohon maaf. Dan saya mohon dijawab untuk menghindari kesalahpahaman ini. Jazakamullah Khoiron Katsiro.wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Nono Taryono
Jawaban
Assalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh,
Beda antara nama-nama itu memang ada, meski sangat berdekatan. Bahkan seringkali bertumpang tindih, namun tetap ada pengertian yang berbeda-beda.
Jin
Di dalam Al-Quran Al-Kariem, Allah SWT menyebut beberapa kali kata jin. Bahkan ada satu surat yang secara khusus membahas tentang jin dan dinamakan dengan surat Al-Jin. Bila disimpulkan secara sekilas, maka ada hal-hal yang bisa ketahui dari Al-Quran Al-Kariem tentang siapakah sosok jin itu.
a. Jin diciptakan oleh Allah SWT dari api. Allah SWT menyebutkan bahwa jin itu diciptakan dari api yang sangat panas, juga disebutkan terbuat dari nyala api.
Dan Kami telah menciptakan jin sebelum dari api yang sangat panas.
Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.
b. Jin ada yang muslim dan ada yang tidak Sebagaimana firman Allah SWT berikut ini
Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.
Contoh jin muslim adalah jin yang menjadi tentara nabi Sulaiman as. Sebagaimana diterangkan di dalam Al-Quran:
Dan Kami telah menciptakan jin sebelum dari api yang sangat panas.
Dan Kami angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.
Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang seperti kolam dan periuk yang tetap. Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur. Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.
Setan
Sedangkan Syaitan itu menurut Al-Quran Al-Kariem adalah makhluq yang kerjanya mengajak kepada perbuatan jahat dan keji serta berbohong.
a. Mengajak kepada Perbuatan Keji Perhatikan firman Allah SWT berikut ini:
Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.
b. Syetan adalah Musuh Manusia Allah SWT telah menegaskan bahwa syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
c. Memberi Janji dan Angan-angan Kosong Syaitan itu kerjanya memberi janji dan angan-angan kosong kepada manusia
Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.
d. Manusia pun ada yang Syaitan Juga Namun Syaitan itu tidak terbatas pada jenis makhluk halus/jin saja, melainkan manusia pun bisa dikategorikan sebagai syaitan. Dan Al-Quran Al-Kariem pun juga menyebut-nyebut tentang manusia yang menjadi syaitan itu.
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.
Katakanlah: Aku berlidung kepada Tuhan manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.
Iblis
Sedangkan Iblis adalah makhluq durhaka yang jeisnya adalah jin, bukan jenis manusia. Al-Quran Al-Kariem secara tegas menyebutkan bahwa Iblis itu adalah dari jenis jin.
Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti bagi orang-orang yang zalim.
Jadi bisa disebutkan bahwa Iblis itu adalah seorang oknum yang berjenis jin. Dialah dahulu jin yang paling dekat dengan Allah SWT, lalu berubah menjadi ingkar lantaran tidak mau diperintahkan untuk bersujud kepada Adam, manusia pertama.
Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
Motivasi yang menghalangi si Iblis itu untuk sujud kepada Adam tidak lain adalah rasa kesombongan dan tinggi hati. Dia merasa dirinya jauh lebih baik dari Adam. Allah berfirman:
Apakah yang menghalangimu untuk bersujud di waktu Aku menyuruhmu? Menjawab iblis, Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.
Ciri yang paling utama dari Iblis adalah dia tidak mati-mati sampai hari kiamat. Dan penangguhan usianya itu memang telah diberikan oleh Allah SWT
Iblis menjawab, Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan. Allah berfirman, Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.
Iblis berkata, Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan. Allah berfirman, Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya.
Jadi iblis adalah nama seorang jin yang hidup di masa penciptaan Adam as. dan tidak mati-mati sampai hari ini. Iblis adalah kakek moyang syetan yang juga punya keturunan, namun keturunannya itu tidak mendapatkan jaminan untuk hidup sampai kiamat. Dan sebagai bangsa jin, ada di antara keturunannya itu yang mati. Meski barangkali usianya berbeda dengan rata-rata manusia. Tetapi tetap akan mati juga. Kecuali kakek moyang mereka yaitu Iblis.
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
Sumber Beda Syetan, Iblis, dan Jin : http://www.salaf.web.id
Syetan Bangga Jika Dicaci, Karenanya Mencacimaki Syetan Tidak Boleh
Oleh: Badrul Tamam
Al-hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Ketika tersandung batu, terpeleset, terjatuh atau terantuk sesuatu yang membuat sakit, sering meluncur dari lisan kita kalimat-kalimat umpatan seperti "Syetan!" (ungkapan kekesalan), atau "Syetan sialan." Seolah-olah syetan ada di balik semua ini, karenanya dialah yang harus disalahkan.
Memang syetan senantiasa berusaha menimpakan keburukan kepada umat manusia karena kedengkiannya. Terutama supaya manusia merugi dan sengsara dunia akhriat. Karenanya, syetan berusaha keras untuk menyesatkan umat manusia dari jalan hidayah supaya kelak menjadi temannya di neraka yang menyala-nyala. Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
"Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (QS. Faathir: 6)
Tapi, menyalah-nyalahkan syetan dengan kalimat-kalimat umpatan bukan sebuah kebaikan.
Diriwayatkan dari Abu Malih. Ada seseorang bercerita kepada Abu Malih. Ia berkata: "Saya pernah naik Unta bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Kemudian Unta beliau terpeleset, tanpa sadar saya berkata, تَعِسَ الشَّيْطَانُ "Celakalah syetan." Lalu Rasullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
لَا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَعَاظَمَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولُ بِقُوَّتِي وَلَكِنْ قُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الذُّبَابِ
"Jangan kamu katakan "celaka Syetan", sebab jika kamu katakan itu badan syetan akan semakin membesar sehingga sebesar rumah seraya berkata, ‘dengan kekuatanku (aku menggelincirkan dia.’ Tetapi katakanlah, ’Dengan menyebut nama Allah’. Bila kamu berkata demikian, maka badan syetan akan mengecil hingga sekecil lalat." (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Nasai, al-Thabrani, al-Baihaqi, dan al-Hakim. Dishahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, beliau berkata, "Shahihul Isnad", no.3128, 3129.)
Menyebut nama Allah-lah yang pantas diucapkan oleh seorang muslim sebagai bentuk keyakinannya bahwa tidak ada yang terjadi di muka bumi kecuali atas izin-Nya. Bukan berarti dengan menyebut nama Allah, Allah disalah-salahkan. Sekali lagi tidak, tapi sebagai ungkapan keyakinan bahwa semua itu dengan izin Allah. Tentunya harus disertai juga dengan keyakinan bahwa apa yang Allah timpakan atas orang muslim hakikatnya membawa kebaikan. Boleh jadi musibah yang menimpa seorang muslim itu sebagai kafarah atas dosa dan kesalahannya atau sebagai ujian dari Allah untuk meninggikan derajatnya.
Diriwayatkan dari Mu'awiyah radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ فِي جَسَدِهِ يُؤْذِيهِ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ
"Tidak ada sesuatu yang menimpa seorang mukmin pada tubuhnya sehingga membuatnya sakit kecuali Allah akan menghapuskan dosa-dosanya." (HR. Ahmad 4/98, Al-Hakim 1/347 Mu'awiyah radliyallah 'anhu. Al-Hakim menyatakan shahih sesuai syarat Syaikhain. Imam al-Dzahabi menyepakatinya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam al-Shahihah 5/344, no. 2274)
Diriwayatkan juga dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
"Tidaklah menimpa seorang muslim kelelahan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan dan duka, sampai pun duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah akan menghapus dengannya dosa-dosanya.” (Muttafaqun'alaih)
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata dalam Syarh Riyadhish Shalihin (1/94): “Apabila engkau ditimpa musibah maka janganlah engkau berkeyakinan bahwa kesedihan atau rasa sakit yang menimpamu, sampaipun duri yang mengenai dirimu, akan berlalu tanpa arti. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menggantikan dengan yang lebih baik (pahala) dan menghapuskan dosa-dosamu dengan sebab itu. Sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya. Ini merupakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sehingga, bila musibah itu terjadi dan orang yang tertimpa musibah itu mengingat pahala dan mengharapkannya, maka dia akan mendapatkan dua balasan, yaitu menghapus dosa dan tambahan kebaikan (sabar dan ridha terhadap musibah)."
Sementara Mengungkapkan kekesalan dengan mencaci maki syetan tidak akan membawa kebaikan. Selain tidak berpahala karena tidak mengembalikan urusan kepada Allah dan tidak sabar atas takdir-Nya, perbuatan tersebut malah membuat syetan merasa senang dan sombong. Syetan akan merasa bahwa kejadian itu ada karena kekuatan yang dimilikinya. Dan selayaknya, seorang muslim yang memproklamirkan syetan sebagai musuh abadinya tidak mau membuat syetan senang dan berbangga.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga pernah berpesan secara khusus agar tidak mencaci syetan ketika terjadi musibah,
لاَ تَسُبُّوْا الشَّيْطَانَ وَ تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنْ شَرِّهِ
"Janganlah kalian mencaci maki syetan, sebaliknya berlindunglah kepada Allah dari kejahatannya." (HR. al-Dailami, Tammaam dalam Fawa'idnya dan yang lainnya, sebagaimana yang terdapat dalam Shahihah milik Al-Albani no. 2422)
Dan bagi siapa yang telah terlanjur dan sering mencaci maki syetan seperti dengan ungkapan, "Syetan sialan, syetan terkutuk!" (uangkapan kesal), dan kata-kata semisalnya dengan dalih Syetan ada di balik semua ini, bukan melakukan kebaikan. Sebaliknya, telah melanggar tuntunan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Karenanya, dia harus beristighfar dan memperbaiki diri sehingga hati akan terbina mengeluarkan kata spontan yang mulia. Wallahu Ta'ala A'lam.
[PurWD/voa-islam.com]
Antara Karamah, Mukjizat, dan Perbuatan Syetan
Oleh: AL Ustadz Abdullah ImamPara pembaca rahimakumullaah, permasalahan karamah para wali merupakan salah satu permasalahan yang penting untuk dibahas dan dipahami. Hal itu disebabkan banyaknya manusia yang salah paham dan salah penerapan. Bahkan sampai-sampai ada yang bertanya apakah karamah itu memang benar ada di kehidupan dunia ini atau hanya sebatas khayalan saja? Kalaupun ada apakah setiap orang yang punya “kelebihan” meskipun tidak jelas asal-usul dan sebab-musababnya bisa dianggap seorang wali dan “kelebihan”nya disebut karamah?
Maka untuk bisa memahami dengan benar permasalahan ini, insya Allah, mari kita ikuti pembahasan ini.
Apakah Karamah Itu?
Kita mulai pembahasan dengan memahami makna karamah itu sendiri. Karamah secara bahasa bermakna suatu nikmat yang khusus. Adapun secara istilah adalah suatu hal yang terjadi di luar kebiasaan manusia yang Allah subhaanahu wa ta’aalaa berikan kepada para wali-Nya. Karamah ini khusus diberikan kepada para wali semasa hidup mereka sebagai bentuk pertolongan dan pengokohan dari Allah subhaanahu wa ta’aalaa dalam menjalani kehidupan serta dalam menegakkan agama-Nya.
Karamah berbeda dengan mukjizat. Mukjizat adalah kelebihan yang terkait dengan para rasul ‘alaihimus salaam ketika mereka menyampaikan risalah kepada umat mereka. Adapun karamah itu untuk selain para rasul ‘alaihimus salaam. Lalu siapakah wali Allah subhaanahu wa ta’aalaa itu?
Disebutkan oleh para ulama (di antaranya adalah Ibnu Taimiyyah rahimahullaah) bahwa yang dimaksud dengan wali Allah subhaanahu wa ta’aalaa adalah orang yang mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan Allah subhaanahu wa ta’aalaa, meninggalkan segala sesuatu yang dilarang dan bersabar dengan takdir yang telah ditetapkan baginya. Mereka mencintai Allah subhaanahu wa ta’aalaa dan Allah subhaanahu wa ta’aalaa-pun mencintai mereka.
Ditambahkan oleh ulama yang lain bahwa mereka bukanlah dari golongan para nabi ‘alaihimus salaam. Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman (yang artinya):
“Ketahuilah bahwa para wali Allah itu tidak ada rasa takut dan rasa sedih pada mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa.” (Yunus: 62-63)
Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullaah berkata menafsirkan ayat ini, “(Pada ayat ini) Allah mengabarkan tentang para wali dan para kekasih-Nya, menyebutkan amalan-amalan, sifat-sifat, dan pahala-pahala mereka.”
Kemudian beliau melanjutkan, “Lalu Allah menyebutkan sifat mereka, yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, dan takdir yang baik dan yang buruk. Mereka pun jujur dalam keimanan tersebut dengan menjalankan ketakwaan, yaitu dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sehingga setiap orang yang beriman dan bertakwa maka termasuk wali Allah.”
Dari pengertian di atas kita mengetahui bahwa pengakuan dan sangkaan semata bukanlah sesuatu yang menjadikan seseorang disebut sebagai wali. Tolok ukurnya adalah keimanan dan ketakwaan. Dan kita pun bisa mengetahui bahwa setiap mukmin yang bertakwa serta senantiasa bersemangat, istiqamah di atas ketakwaan tersebut, dan bukan seorang nabi, maka ia termasuk wali Allah subhaanahu wa ta’aalaa.
Ibnu Katsir rahimahullaah berkata, “Wali-wali Allah adalah mereka yang beriman dan bertakwa sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah tentang mereka, sehingga setiap orang yang bertakwa adalah wali-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/422)
Pembagian Manusia dalam Menyikapi Karamah
Manusia menjadi tiga kelompok dalam menyikapi karamah:
1. Kelompok yang menolak dan meniadakan keberadaan karamah seperti kaum Mu’tazilah dan ahli filsafat. Mereka berpendapat kalau seandainya sesuatu yang di luar kebiasaan itu ada pada para wali maka tidak akan terbedakan antara seorang nabi dengan yang lainnya. Karena tentunya perbedaan antara nabi dan yang lain adalah dengan adanya mukjizat yang merupakan suatu hal di luar kebiasaan manusia.
2. Kelompok yang berlebihan dalam menyikapi keberadaan karamah. Kelompok ini adalah yang menganggap setiap kejadian luar biasa adalah karamah walaupun hal itu terjadi pada orang-orang yang tidak bertakwa. Bahkan sekalipun hal itu terjadi pada orang-orang yang banyak bermaksiat kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa dan menyelisihi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Yang pada hakikatnya itu adalah sihir yang bersumber dari setan kemudian dianggap sebagai karamah, seperti: masuk ke dalam api, memukul tubuh dengan senjata tajam, mengabarkan berita gaib, dan yang lainnya. Bahkan tak jarang yang terjerumus dalam kubangan kesyirikan.
3. Kelompok yang meyakini adanya karamah para wali Allah dan menetapkannya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dan dijelaskan oleh syariat. Inilah yang benar dan merupakan keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Jawaban untuk kelompok pertama, bahwa sungguh sangat berbeda keadaan nabi dan wali. Dikarenakan para wali tidaklah mengaku sebagai nabi. Jikalau mereka mengaku nabi, maka sungguh sunnatullah yang akan berbicara bahwa siapa saja mengaku nabi padahal ia bukan nabi maka akan binasa sebagaimana telah terjadi pada Musailamah al-Kadzdzab dan yang lainnya.
Demikian pula mukjizat yang ada pada para nabi terjadi di luar kebiasaan seluruh makhluk termasuk jin, adapun karamah terjadi hanya di luar kebiasaan manusia saja. Dan juga telah tetap dalil-dalil di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah yang menjelaskan tentang keberadaan karamah.
Adapun jawaban untuk kelompok kedua, karamah itu berbeda dengan sihir dan semisalnya. Karena meskipun sihir juga terjadi di luar kebiasaan namun bukan berada pada para wali Allah subhaanahu wa ta’aalaa melainkan pada musuh-musuh Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Mereka (para penyihir) bukanlah para wali Allah subhaanahu wa ta’aalaa melainkan wali setan, dan apa yang ada pada mereka bisa jadi kedustaan, atau bisa jadi fitnah dan ujian bagi diri mereka dan orang lain yang tidak memahami hakikat permasalahan sebenarnya.
Beberapa Hal yang Terkait dengan Karamah
Karamah yang terjadi ternyata memiliki hikmah yang begitu besar, di antaranya:
1. Karamah merupakan salah satu perkara terbesar yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah subhaanahu wa ta’aalaa dan kebesaran-Nya.
Lihatlah bagaimana Allah Maha mampu memberikan suatu kelebihan dan kemampuan di luar akal dan kemampuan manusia yang lemah kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari para wali-Nya.
2. Karamah yang ada dan terjadi pada para wali pada hakikatnya merupakan bagian dari mukjizat yang dimiliki para nabi dan rasul. Karena tentunya karamah tersebut tidaklah bisa ada dan terjadi kecuali dengan sebab para wali tersebut menerima dan mengikuti serta mengamalkan risalah yang dibawa oleh para nabi dan rasul.
3. Karamah merupakan salah satu kabar gembira tentang keutamaan mereka kelak di akhirat, yang Allah subhaanahu wa ta’aalaa segerakan saat masih hidup di dunia ini.
Akan tetapi, bukan berarti para wali yang mendapatkan karamah itu lebih tinggi derajatnya dibandingkan yang tidak mendapat karamah. Hal ini karena karamah tidak terjadi pada kebanyakan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan lebih banyak terjadi pada para tabi’in rahimahumullaah, sementara para sahabat radhiyallaahu ‘anhum lebih mulia derajatnya dibandingkan dengan para tabi’in rahimahumullaah.
Beberapa Realita Terjadinya Karamah
1. Kisah Ashabul Kahfi yang hidup di tengah kaum musyrikin. Namun mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Demi menyelamatkan keimanan mereka, akhirnya mereka keluar dari negeri tersebut. Kemudian Allah subhaanahu wa ta’aalaa mudahkan mereka untuk menetap di sebuah gua di atas gunung. Gua tersebut menghadap ke utara sehingga sinar matahari tidak bisa masuk ke dalamnya. Mereka tinggal di dalamnya selama 309 tahun dalam keadaan tertidur. Panas dan dingin tidak mempengaruhi tubuh mereka. Mereka tidak merasakan lapar serta dahaga. Keadaan ini berlanjut hingga akhirnya Allah subhaanahu wa ta’aalaa bangunkan mereka dari tidur yang panjang tersebut dalam keadaan negeri telah terbebaskan dari noda kesyirikan, sehingga selamatlah mereka. Allah subhaanahu wa ta’aalaa menyebutkan kisah ini di dalam Al-Qur`an surat Al-Kahfi.
2. Kisah al-‘Ala bin al-Hadhrami radhiyallaahu ‘anhu yang merupakan salah seorang sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kisah beliau ketika berjalan bersama pasukannya menuju sebuah negeri hingga akhirnya mereka sampai di tepi laut yang memisahkan antara mereka dengan negeri tersebut. Kemudian beliau berdoa kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa meminta pertolongan dan jalan keluar untuk bisa menyeberangi laut tersebut. Kemudian Allah subhaanahu wa ta’aalaa mengabulkan doa tersebut dengan dimudahkannya beliau bersama pasukan berjalan di atas laut dan akhirnya mencapai negeri tersebut.
Apakah Karamah Akan Senantiasa Ada sampai Hari Kiamat?
Ketahuilah bahwa karamah akan senantiasa ada di dunia ini sampai hari kiamat. Di antara dalil yang menunjukkan tentang hal ini adalah:
1. Sebuah kisah yang akan terjadi yang telah disebutkan rasul tentang Dajjal dengan seorang pria.
Dikisahkan bahwa seorang pria mendatangi Dajjal kemudian ia mengatakan, “Aku bersaksi bahwasanya engkau adalah Dajjal yang telah diceritakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada kami.” Lalu Dajjal membunuhnya, kemudian Dajjal menghidupkannya kembali (dengan izin Allah subhaanahu wa ta’aalaa) dan pria tadi hidup kembali. Dajjal lalu memaksa kembali agar pria itu mau mengakui ketuhanannya. Namun pria tadi tetap pada pendiriannya semula bahkan dia berkata, “Hari ini aku lebih yakin lagi bahwa engkau adalah seorang pendusta.” Maka Dajjal berusaha untuk membunuhnya untuk kedua kalinya, namun kali ini dia tidak mampu membunuhnya. Ketidakmampuan Dajjal untuk membunuh pria tadi merupakan karamah yang dimilikinya. Dan kita ketahui bersama bahwa Dajjal tidaklah muncul kecuali ketika hari kiamat telah dekat.
2. Selama sebab adanya karamah masih ada, yaitu dengan masih ada para wali Allah subhaanahu wa ta’aalaa di muka bumi ini maka karamah itu pun akan senantiasa ada dan mengiringi mereka sampai Allah subhaanahu wa ta’aalaa hembuskan angin yang akan mematikan seluruh orang yang beriman.
Penutup
Para pembaca rahimakumullaah, dari pembahasan di atas ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil:
1. Karamah itu ada dan bukan khayalan semata sehingga wajib bagi kita untuk menetapkan dan meyakini keberadaannya.
2. Karamah hanya diberikan kepada wali Allah subhaanahu wa ta’aalaa yang menjalani kehidupan dengan penuh iman dan takwa.
3. Karamah itu akan senantiasa ada di dunia ini sampai menjelang hari kiamat nanti.
Sumber: http://www.mediasalaf.com/aqidah/sekilas-tentang-karamah
* * *
Tambahan:
Perbedaan Antara Mu’jizat dan Karomah
Saudaraku yang dirahmati Allah setelah kita mengetahui dalil-dalil tentang adanya karomah para wali baik dari Al Qur’an maupun As Sunnah maka kita pun perlu mengetahui perbedaan antara karomah dan mu’jizat. Yaitu:
• Mu’jizat terjadinya dengan unsur kesengajaan dan ada kaitannya dengan kenabian, adapun karomah terjadinya tidak demikian.
• Karomah terjadinya pada seseorang baik laki-laki maupun perempuan merdeka maupun budak, selama ia seorang yang shalih. Sedang mu’jizat tidaklah terjadi kecuali pada seorang Nabi atau Rasul yang tentunya seorang Nabi atau Rasul adalah seorang laki-laki dan bukan seorang budak.
Perbedaan Antara Karomah dan Perbuatan Syaithon
Ada sesuatu yang bukan mu’jizat dan juga bukan karomah, dia adalah “Al Ahwal As Syaithoniyyah” (perbuatan syaithon). Inilah yang banyak menipu kaum muslimin, dengan anggapan bahwa ia karomah, padahal justru tidak ada kaitannya dengan Karomah, karena:
- Karomah datangnya dari Allah sedangkan ia jelas datangnya dari syaithon. Sebagaimana yang terjadi pada Musailamah Al Kadzdzab dan Al Aswad Al Ansyi (dua orang pendusta di zaman Rasulullah yang mengaku menjadi nabi) dan menyampaikan perkara-perkara yang ghoib, ini jelas merupakan perbuatan syaithon.- Demikian pula karomah para wali disebabkan karena kuatnya keimanan dan ketaatan mereka kepada Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: ”Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah maka ia pun menjadi wali Allah.” Sedangkan perbuatan syaithon ini dikarenakan kufurnya mereka kepada Allah dengan melakukan kesyirikan-kesyirikan serta kemaksiatan kepada Allah, dan syarat-syarat tertentu yang harus ia lakukan.
- Karomah merupakan suatu pemberian dari Allah kepada hamba-Nya yang shalih dengan tanpa susah payah darinya. Berbeda dengan perbuatan syaithon, maka ini terjadi dengan susah payah setelah sebelumnya ia berbuat syirik kepada Allah.
- Karomah para wali tidak bisa disanggah atau dibatalkan dengan sesuatu pun. Berbeda dengan perbuatan syaithon yang dapat dibatalkan dengan menyebut nama-nama Allah atau dibacakan ayat kursi atau yang semisalnya dari ayat-ayat Al Qur’an. Bahkan Syaikhul Islam menyebutkan bahwa ada seseorang yang terbang di atas udara kemudian datang seseorang dari Salafushshalih lalu dibacakan ayat kursi kepadanya maka seketika itu dia jatuh dan mati.
- Karomah itu tidaklah menjadikan seseorang sombong dan merasa bangga diri, justru dengan adanya karomah ini menjadikannya semakin bertaqwa kepada Allah dan semakin mensyukuri nikmat Allah. Adapun perbuatan syaithon bisa menjadikan seseorang bangga diri atau sombong dengan kemampuan yang dia miliki serta angkuh terhadap Allah, sehingga jelaslah bagi kita akan hakekat karomah dan perbuatan syaithon.
Diambil dari: http://www.buletin-alilmu.com/hakekat-karomah