SAKIT DAN MUSIBAH ADALAH
PENGHAPUS DOSA BAGI SEORANG MUSLIM
155.
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita
gembira kepada orang-orang yang sabar,
156.
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,
"Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun"
157.
Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan
mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.
QS.
AL-BAQARAH
Telah
menjadi ketetapan dari Allah Azza wa Jalla bahwa setiap manusia pasti
pernah mengalami sakit dan musibah selama hidupnya. Allah Subhanahu Wa
Ta’ala berfirman :
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah
berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila
ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun’.
Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan
mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ”. (QS. Al-Baqaroh :
155-157).
Sakit
dan musibah yang menimpa seorang mukmin mengandung hikmah yang merupakan rahmat
dari Allah Ta’ala. Imam Ibnul Qayyim berkata : “Andaikata
kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya,
maka tidak kurang dari ribuan hikmah. Namun akal kita sangat terbatas,
pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika
dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia dibawah
sinar matahari. Dan inipun hanya kira-kira, yang sebenarnya tentu lebih dari
sekedar gambaran ini”. (Syifa-ul Alil fi Masail Qadha wal
Qadar wa Hikmah wa Ta’lil hal 452).
Dalam
menyikapi sakit dan musibah tersebut, berikut ini ada beberapa prinsip yang
harus menjadi pegangan seorang muslim :
1. Sakit dan Musibah adalah Takdir Allah Azza wa Jalla
Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula)
pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum
Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS. Al-Hadid : 22).
“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang melainkan
dengan izin Allah” (QS.
At-Taghaabun : 11).
Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan semua takdir seluruh makhluk sejak lima
puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi”. (HR.
Muslim no. 2653).
2. Sakit dan Musibah Adalah Penghapus Dosa
Ini
adalah hikmah terpenting sebab diturunkannya sakit dan musibah. Dan hikmah ini
sayangnya tidak banyak diketahui oleh saudara-saudara kita yang tertimpa musibah.
Acapkali kita mendengar manusia ketika ditimpa sakit dan musibah malah mencaci
maki, berkeluh kesah, bahkan yang lebih parah meratapi nasib dan berburuk
sangka dengan takdir Allah. Nauzubillah, kita berlindung kepada Allah
dari perbuatan semacam itu. Padahal apabila mereka mengetahui hikmah dibalik
semua itu, maka -insya Allah- sakit dan musibah terasa ringan disebabkan
banyaknya rahmat dan kasih sayang dari Allah Ta’ala.
Hikmah
dibalik sakit dan musibah diterangkan Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam, dimana beliau bersabda:
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya,
melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang
mengugurkan daun-daunnya”.
(HR.
Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571).
“Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit,
kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya,
melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya”. (HR. Bukhari no. 5641).
“Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus,
kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang
menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya”. (HR. Muslim no. 2573).
“Bencana senantiasa menimpa orang mukmin dan mukminah pada
dirinya, anaknya dan hartanya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan
tidak ada kesalahan pada dirinya”.
(HR.
Tirmidzi no. 2399, Ahmad II/450, Al-Hakim I/346 dan IV/314, Ibnu Hibban no.
697, dishohihkan Syeikh Albani dalam kitab Mawaaridizh Zham-aan no.
576).
“Sesungguhnya Allah benar-benar akan menguji hamba-Nya dengan
penyakit, sehingga ia menghapuskan setiap dosa darinya”.
(HR.
Al-Hakim I/348, dishohihkan Syeikh Albani dalam kitab Shohih Jami’is Shoghir
no.1870).
“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu,
melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula
satu kesalahan darinya”.
(HR. Muslim no. 2572).
“Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api neraka”. (HR. Al-Bazzar,
dishohihkan Syeikh Albani dalam kitab Silsilah al Hadiits ash Shohihah
no. 1821).
“Janganlah kamu mencaci-maki penyakit demam, karena sesungguhnya
(dengan penyakit itu) Allah akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana
tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi”. (HR. Muslim no. 2575).
Walaupun
demikian, apabila seorang mukmin ditimpa suatu penyakit tidaklah meniadakan
usaha (ikhtiar) untuk berobat. Rasulullah shallalllahu alaihi wa sallam
bersabda : “Allah tidak menurunkan penyakit
melainkan pasti menurunkan obatnya”. (HR. Bukhari no. 5678). Dan
yang perlu diperhatikan dalam berobat ini adalah menghindarkan dari cara-cara
yang dilarang agama seperti mendatangi dukun, paranormal, ‘orang pintar’, dan
sebangsanya yang acapkali dikemas dengan label ‘pengobatan alternatif’. Selain
itu dalam berobat juga tidak diperbolehkan memakai benda-benda yang haram
seperti darah, khamr, bangkai dan sebagainya karena telah ada larangannya dari
Rasulullah shallalllahu alaihi wa sallam yang bersabda :
“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka
berobatlah dan janganlah berobat dengan yang haram”. (HR. Ad Daulabi dalam al-Kuna,
dihasankan oleh Syeikh Albani dalam kitab Silsilah al Hadiits ash- Shohihah
no. 1633).
“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kalian pada
apa-apa yang haram”.
(HR.
Abu Ya’la dan Ibnu Hibban no. 1397. Dihasankan oleh Syeikh Albani dalam kitab Mawaaridizh
Zham-aan no. 1172).
“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan penyakit kalian
pada apa-apa yang diharamkan atas kalian”. (HR. Bukhari, di-maushulkan
ath-Thabrani dalam Mu’jam al Kabiir, berkata Ibnu Hajar : ‘sanadnya
shohih’, Fathul Baari : X/78-79).
3. Wajib Bersabar dan Ridho Apabila Ditimpa Sakit dan Musibah
Apabila
sakit dan musibah telah menimpa, maka seorang mukmin haruslah sabar dan ridho
terhadap takdir Allah Azza wa Jalla, dan harapkanlah pahala serta
dihapuskannya dosa-dosanya sebagai ganjaran dari musibah yang menimpanya. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘Inna
lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang
sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang
mendapat petunjuk ”. (QS.
Al-Baqaroh : 155-157).
Dalam
beberapa hadis Qudsi Allah Azza wa Jalla berfirman :
“Wahai anak Adam, jika engkau sabar dan mencari keridhoan pada
saat musibah yang pertama, maka Aku tidak meridhoi pahalamu melainkan surga”.
(HR.
Ibnu Majah no.1597, dihasankan oleh Syeikh Albani dalam Shohih Ibnu Majah
: I/266).
Maksud
hadis diatas yakni apabila seorang hamba ridho dengan musibah yang menimpanya
maka Allah ridho memberikan pahala kepadanya dengan surga.
“Jika anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah akan
berkata kepada malaikat-Nya : ‘Apakah kalian telah mencabut nyawa anak
hamba-Ku?. Para Malaikat menjawab : ‘Ya, benar’. Lalu Dia bertanya lagi :
‘Apakah kalian mengambil buah hatinya?’. Malaikat menjawab : ‘Ya’. Kemudian Dia
berkata : ‘Apa yang dikatakan oleh hamba-Ku itu?’. Malaikat menjawab ‘Ia
memanjatkan pujian kepada-Mu dan mengucapkan kalimat istirja’ (Inna lillaahi wa
innaa ilaihi roji’un). Allah Azza wa Jalla berfirman : ‘Bangunkan untuk
hamba-Ku sebuah rumah di surga dan namai dengan (nama) Baitul Hamd (rumah
pujian)’.” (HR
Tirmidzi no.1021, dihasankan Syeikh Albani dalam Shohih Sunan Tirmidzi
no. 814)
“Tidaklah ada suatu balasan (yang lebih pantas) di sisi-Ku bagi
hamba-Ku yang beriman jika Aku telah mencabut nyawa kesayangannya dari penduduk
dunia kemudian ia bersabar atas kehilangan orang kesayangannya itu melainkan
surga”. (HR.
Bukhari).
“Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung berfirman : ‘Jika
Aku menguji hamba-Ku dengan dua hal yang dicintainya (yakni menjadikan
seorang hamba kehilangan dua penglihatannya/buta) lalu ia bersabar maka Aku
akan menggantikan keduanya dengan surga”. (HR. Bukhari).
Rasulullah
shollallahu alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya
besarnya pahala itu tergantung besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah
menyukai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridho maka
baginya keridhoan, dan barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan”.
(HR. Tirmidzi no. 2396, Ibnu Majah no. 4031, dihasankan Syeikh Albani dalam Shohih
Sunan Tirmidzi II/286).
Hikmah
lainnya dari sakit dan musibah adalah menyadarkan seorang hamba yang tadinya
lalai dan jauh dari mengingat Allah -karena tertipu oleh kesehatan badan dan
sibuk mengurus harta- untuk kembali mengingat Robb-nya. Karena jika Allah
mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah barulah ia merasakan kehinaan,
kelemahan, teringat akan dosa-dosa, dan ketidakmampuannya di hadapan Allah
Ta’ala, sehingga ia kembali kepada Allah dengan penyesalan, kepasrahan, memohon
ampunan dan berdoa kepada-Nya.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelummu,
kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan
supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri”.
(QS. Al-An’aam : 42).
Sakit
dan musibah merupakan pintu yang akan membukakan kesadaran seorang hamba
bahwasanya ia sangat membutuhkan Allah Azza wa Jalla. Tidak sesaatpun
melainkan ia butuh kepada-Nya, sehingga ia akan selalu tergantung kepada
Robb-nya. Dan pada akhirnya ia akan senantiasa mengikhlaskan dan menyerahkan
segala bentuk ibadah, doa, hidup dan matinya, hanyalah kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala semata.
Jazakallahu khairal jaza untuk al-akh ku di sana.